Kamis, 30 Januari 2020

Pengertian Titrasi Asam Basa


Pengertian Titrasi Asam Basa
Titrasi adalah prosedur menetapkan kadar suatu larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain yang telah diketahui kadarnya (larutan standar) secara bertahap. Berdasarkan jenis reaksi yang terjadi, titrasi dibedakan menjadi titrasi asam basa, titrasi pengendapan, dan titrasi redoks. Dalam artikel ini, yang akan dibahas lebih lanjut hanya titrasi asam basa saja.
Pada label yang tertera pada botol cuka makan umumnya terdapat informasi kadar cuka tersebut. Misalkan, pada suatu botol cuka tertulis 25% asam cuka, bagaimana cara memastikan kebenaran dari kadar tersebut? Penentuan kadar asam cuka dapat dilakukan dengan prosedur eksperimen menggunakan metode titrasi.
Perubahan pH pada Titrasi Asam Basa
Pada saat larutan basa ditetesi dengan larutan asam, pH larutan akan turun. Sebaliknya, jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik. Jika pH larutan asam atau basa diplotkan sebagai fungsi dari volum larutan basa atau asam yang diteteskan, maka akan diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi. Kurva titrasi menunjukkan perubahan pH larutan selama proses titrasi asam dengan basa atau sebaliknya. Bentuk kurva titrasi memiliki karakteristik tertentu yang bergantung pada kekuatan dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi.
Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Sebagai contoh, 40 mL larutan HCl 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut.
Dari kurva tersebut dapat disimpulkan:
§  Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit
§  Perubahan pH drastis terjadi sekitar titik ekivalen
§  pH titik ekivalen = 7 (netral)
§  Indikator yang dapat digunakan: metil merah, bromtimol biru, atau fenolftalein. Namun, yang lebih sering digunakan adalah fenolftalein karena perubahan warna fenolftalein yang lebih mudah diamati.

Titrasi asam lemah dengan basa kuat
Sebagai contoh, 40 mL larutan CH3COOH 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi berwarna biru yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut dibandingkan dengan kurva titrasi HCl dengan NaOH yang berwarna merah.









Dari kurva tersebut dapat disimpulkan:
§  Titik ekivalen berada di atas pH 7, yaitu antara 8 – 9
§  Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen lebih kecil, hanya sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±10
§  Indikator yang digunakan: fenolftalein. Metil merah tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh sebelum tercapai titik ekivalen.

Titrasi basa lemah dengan asam kuat
Sebagai contoh, 40 mL larutan NH3 0,1 M ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut ditampilkan kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut


Dari kurva tersebut dapat disimpulkan:
§  Titik ekivalen berada di bawah pH 7, yaitu antara 5 – 6
§  Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen hanya sedikit, sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±4
§  Indikator yang digunakan: metil merah. Fenolftalein tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh sebelum tercapai titik ekivalen.





Definisi Trayek pH Indikator


Definisi Trayek pH Indikator
        Proses pengukuran pH dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakanpHmeter atau pH indikator. pHmeter merupakan alat yang dapat menunjukkan nilai pH suatu senyawa dengan presisi. pH indikator merupakan senyawa yang memiliki kepekaan terhadap berubahnya suasana asam atau basa dengan cara berubah warna pada kisaran tertentu. Terdapat dua macam pH indikator, yaitu pH indikator universal dan pH indikator dengan trayek pH tertentu. pH indikator universal memiliki kemampuan perubahan warna untuk keadaaan asam dan basa mulai dari 1 hingga 14. Berbeda dengan pH indikator yang hanya memiliki trayek tertentu untuk menentukan pH suatu senyawa.
Berikut ini merupakan jenis pH indikator yang sering digunakan.
Contoh
Contoh 1
Suatu larutan tidak menunjukkan adanya perubahan warna ketika diberi indikator fenolftalein (PP). Akan tetapi berubah warna menjadi biru ketika menggunakan indikator bromtimol biru. Larutan tersebut memiliki pH pada kisaran .…
Penyelesaian:
 


 Jadi  kisaran 7,6 – 8,3
 Contoh Soal berikut:
Pada pengujian sampel air limbah diperoleh data sebagai berikut :
Sampel
Metil Merah(MM)
(pH 4,2 – 6,3)
Merah – Kuning
Bromtimol Biru( BTB)
 (pH 6,0 – 7,6)
 Kuning – Biru
Phenolftalein ( PP )
(pH 8,3 – 10)
Tidak Berwarna – Merah 
A
Kuning
Biru
Merah
B
Kuning
Biru
Tidak Berwarna
Harga pH untuk sampel A dan B berturut-turut adalah ...
 Jadi  kisaran pH 10























Jadi  kisaran  7,6  pH  8,3
Jadi  pH untuk sampel A dan B berturut-turut adalah ...

pH 10 dan 7,6  pH  8,3

10 Reaksi Asam Basa


10 Reaksi Asam Basa
Berikut adalah sepuluh macam reaksi-reaksi dari larutan asam dan basa.
Setiap reaksi menghasilkan hasil reaksi yang berbeda pula tergantung apakah pereaksinya Asam Lemah, Asam Kuat, Basa Lemah, atau Basa Kuat.
Sebenarnya ada lebih dari 10 reaksi asam basa, namun yang dipelajari di SMA hanya 10 reaksi saja
1.    Asam Kuat + Basa Kuat –> Garam + Air .
Contoh reaksinya : 
HCl + NaOH –> NaCl + H2O
2.    Asam Kuat + Basa Lemah –> Garam + Air.
Contoh reaksinya : 
HNO3 + NH4OH –> NH4NO3 + H2O
3.    Asam Lemah + Basa Kuat –> Garam + Air.
Contoh reaksinya : 
HCN + NaOH –> NaCN + H2O
Asam Lemah + Basa Lemah –> Garam + Air.
Contoh reaksinya : 
CH3COOH + NH4OH –> NH4CH3COO + H2O
4.    Asam I + Garam I –> Garam + Asam II.
Contoh reaksinya : 
H3PO4 + NH4F –> (NH4)3PO4 + 3HF
5.    Basa I + Garam I –> Garam II + Basa II.
Contoh reaksinya : 
NaOH + (NH4)2SO4 –> 2 NH4OH + Na2 SO4
6.    Garam I + Garam II –> Garam III + Garam IV 
(dengan catatan, salah satunya mengendap).
Contoh reaksinya : 
Pb(NO3)2 + KI –> PbI2 + 2KNO3
7.    Logam + Asam –> Garam + Gas H2.
Contoh reaksinya :
Mg + 2HCl –> MgCl2 + H2
8.    Oksida Basa + Asam –> Garam + Air.
Contoh reaksinya : 
MgO + HNO3 –> Mg(NO3)2 + H2O
9.    Oksida Asam + Basa –> Garam + Air.
Contoh reaksinya : 
CO2 + 2NaOH –> Na2CO3 + H2O